Refleksi untuk Hari Santri Nasional (HSN) 2025

MWCNU KECAMATAN BANTARKAWUNG

Refleksi untuk Hari Santri Nasional (HSN) 2025

Ditulis oleh Zaenal Arifin, Bangbayang

 



Hadirat Santri yang dirahmati Allah SWT,

 Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Pada momen Hari Santri Nasional (HSN) 2025 yang jatuh pada 22 Oktober 2025 ini, kita kembali merenungkan peran pesantren sebagai benteng peradaban Islam dan kebangsaan. Tema HSN tahun ini, "Santri di Garis Depan: Merawat Tradisi, Menjawab Tantangan Global", mengajak kita untuk tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga menjawab tudingan-tudingan yang sering kali menyerang citra pesantren di mata masyarakat modern. Salah satu isu yang kini kembali mengemuka adalah narasi bahwa tradisi adab santri di pesantren merupakan bentuk feodalisme atau bahkan perbudakan. Narasi ini, yang belakangan viral melalui sebuah program televisi nasional, menggambarkan santri sebagai "budak" yang bekerja tanpa upah dan kiai sebagai sosok yang disembah seperti raja. Namun, sebagai santri, kita tahu bahwa ini adalah salah paham yang dalam, yang lahir dari ketidakpahaman terhadap esensi adab dan manhaj keilmuan Islam.

1. Adab Santri: Bukan Feodalisme, Melainkan Etika Ilahiah

Feodalisme, dalam pengertian historisnya, adalah sistem sosial di mana pihak atas (tuan tanah atau penguasa) memaksakan ketaatan mutlak kepada bawahan melalui paksaan, eksploitasi, dan hierarki kekuasaan yang anti-kritis. Ini bertentangan dengan prinsip Islam yang egaliter, di mana semua manusia setara di hadapan Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam QS Al-Hujurat: 13, "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal memahami. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa."

Di pesantren, adab santri –seperti mencium tangan kiai, berjalan menunduk saat lewat, atau taat pada perintah guru– bukanlah ketaatan buta atau perbudakan. Ini adalah relasi murid-guru yang diatur syariat, bertujuan untuk membuka pintu keberkahan ilmu (barakah al-ilm). Sebagaimana ditegaskan dalam hadits Rasulullah SAW: "Barangsiapa yang menempuh jalan mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga" (HR Muslim). Adab ini bersifat sukarela, penuh kasih sayang, dan terbuka untuk kritik yang konstruktif melalui musyawarah, bukan otoritas mutlak.

Rhoma Irama, sang Raja Dangdut yang juga alumni pesantren, dengan tegas membantah tudingan ini: "Yang terjadi di pesantren bukan feodalisme, tapi akhlakul karimah – akhlak mulia yang diajarkan Islam. Begitu pula Gus Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum PBNU, yang menekankan bahwa serangan identitas seperti ini justru mengancam persatuan bangsa, karena pesantren adalah simbol tawadhu' (kerendahan hati) yang menjaga ketersambungan sanad ilmu. Di Bahtsul Masail Mahad Aly Lirboyo (Juli 2025), para mahasantri menyimpulkan: "Feodalisme adalah perbudakan mutlak, sedangkan adab pesantren adalah relasi syar'i tanpa paksaan.

2. Bukan Perbudakan, Melainkan Pembentukan Karakter Mandiri

Tudingan bahwa santri "bekerja tanpa gaji" mengabaikan realitas pesantren sebagai ekosistem mandiri. Santri belajar kemandirian melalui mujahelin (kerja bakti) seperti membersihkan masjid, memasak, atau bertani – bukan eksploitasi, tapi ibadah yang mendidik akhlak dan tanggung jawab. Ini sejalan dengan sunnah Nabi SAW yang bekerja sendiri meski sebagai pemimpin umat. Expo Kemandirian Pesantren dalam rangkaian HSN 2025 (2-7 Oktober di Sengkang dan PTKIN nasional) justru menunjukkan bagaimana pesantren menghasilkan inovasi ekonomi, dari pertanian organik hingga startup halal, membuktikan bahwa santri bukan korban, melainkan pelopor kemajuan.

Di tengah kritik modern yang egaliter, pesantren membuka ruang diskusi seperti Halaqah Astaloka (22 September-20 Oktober 2025 di 8 titik nasional), di mana santri diajak berdebat ilmiah tentang isu global, dari moderasi beragama hingga diplomasi ilmu. Ini menegaskan: pesantren bukan menara gading feodal, tapi laboratorium spiritual yang anti-otoriter.

3. Panggilan untuk Santri di HSN 2025: Merawat Adab, Jawab Tantangan

Hadirat Santri, HSN 2025 bukan hanya perayaan, tapi panggilan aksi. Rangkaian acara seperti Ithlaq Hari Santri di Tebuireng (22 September), Gerakan Ekoteologi "Satu Santri Satu Pohon" (2 Oktober di 34 provinsi), dan MQK Internasional di Sengkang menunjukkan peran santri sebagai agen perubahan. Hadapi tudingan feodal dengan ilmu dan akhlak: tulis artikel, buat podcast, atau ikut diskusi – buktikan bahwa adab kita adalah cahaya, bukan belenggu.

Ingatlah firman Allah dalam QS Al-Alaq: 1-5, "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan... Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya." Ilmu sejati lahir dari adab, bukan pemberontakan buta. Mari kita jaga pesantren sebagai benteng tauhid, bukan biarkan narasi sesat merusaknya.


Wallohul Muwafiq Ilaa Aqwamith Tharieq

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokaatuh